Jumadi, Korban Keganasan sepakbola Indonesia


PKT
Sepakbola memang berlangsung dengan keras, karena sering menghadirkan adu fisik ketika memperebutkan bola. Namun, keras bukan berarti harus bermain kasar. Sebelumnya aksi kekerasan sering melibatkan suporter, walau tidak jarang pula melibatkan pemain dan ofisial.

Terakhir, publik sepakbola nasional mendengar kabar gelandang PKT Bontang, Jumadi Abdi, tutup usia akibat berbenturan dengan pemain Persela Lamongan, Denny Tarkas, akhir pekan kemarin dalam Superliga Indonesia 2008/2009.

Jumadi
Lambung pemain yang mendapat julukan Pele dari rekan-rekannya itu dihajar kaki Denny yang sedang berusaha menghalau bola ketika sedang dikuasai Jumadi. Dari rekaman video pertandingan yang terdapat di laman youtube, tampak Denny dengan sengaja mengangkat kaki ke arah perut. Padahal, bola berada di atas rumput, atau dalam penguasaan kaki Jumadi.

Tindakan Denny tersebut tentunya layak mendapat pertanyaan, apakah pantas dilakukan seperti itu atau tidak? Denny menyebut tindakannya tersebut tidak disengaja serta tak ada maksud mencederai Jumadi.

Aksi seperti itu, dan cenderung membahayakan pemain lawan, sudah sering kita lihat di pentas sepakbola Indonesia mulai dari level terendah sampai yang paling sarat gengsi, Superliga. Sayangnya, sering jajaran wasit memandang aksi ini hanya sebatas bagian dari sebuah permainan yang disebut sepakbola.

Ironisnya, akibat adanya pembiaran dari korps pengadil lapangan, aksi mengangkat kaki terlalu tinggi dan berbahaya maupun pelanggaran kasar dibawa pemain ke tim nasional. Bukan pemandangan aneh bila wasit dari kawasan Asia sering memberikan kartu, baik kuning maupun merah, kepada pemain Indonesia. Timbul kesan pesepakbola Indonesia minim aturan maupun etika yang berlaku di lapangan hijau.

Di sisi lain, PSSI sebagai lembaga tertinggi sepakbola di Tanah Air sepertinya tidak cepat tanggap dengan insiden ini. PSSI baru bergerak setelah mengetahui Jumadi menghembuskan nafas terakhir. Melalui ketua umumnya, Nurdin Halid, PSSI baru memulai investigasi untuk mengungkap kasus ini. Padahal, Jumadi sempat dirawat di rumah sakit selama delapan hari.

Dari berbagai peristiwa, PSSI sepertinya membiarkan kasus kekerasan terjadi di sepakbola nasional. Belum lama ini, ujung tombak Persik Kediri yang kini dipinjam Persib Bandung, Cristian Gonzalez, dibebaskan dari sanksi larangan aktif di sepakbola selama satu tahun di sepakbola nasional karena melakukan pemukulan terhadap pemain PSMS Medan oleh Nurdin sendiri.

Padahal, hukuman Gonzalez yang dikeluarkan komisi disiplin [Komdis] sudah diperkuat keputusan komisi banding [Komding]. Namun, Nurdin memakai hak prerogatifnya sebagai ketua umum PSSI untuk membebaskan pemain asal Uruguay itu dari segala hukuman.

Satu Balasan ke Jumadi, Korban Keganasan sepakbola Indonesia

  1. siuma mengatakan:

    sepak bola memang susah untuk berkembang jika terus begini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: